Sebuah kisah langka dan menarik yang dimulai ketika nenek moyang suku Sumba, 'Marapu,' mendarat di pantai terpencil berabad-abad silam.

Keyakinan tentang kekuatan mereka bervariasi, tetapi semangat Marapu tetap menjadi kekuatan kebajikan di pulau, melindungi jalan kehidupan dan menarik perhatian mereka yang menghormati dan mewariskan kekayaan budaya serta cerita rakyat Sumba, di masa lalu dan sekarang.

Pantai yang sama menarik Claude dan Petra Graves di tahun 1988, saat mencari ombak yang sempurna. Dari petualangan ini muncullah sebuah visi untuk menciptakan sebuah resort yang tetap melestarikan dan menampilkan keindahan mengagumkan dari Sumba kepada mereka yang benar-benar menghargainya. Pantai Nihiwatu, yang berarti "batu mortar," dinamai oleh penduduk awal dari formasi batuan terisolasi di sepanjang garis air pasang. Pemakaman itu disebut Resort Nihiwatu untuk semua wilayah sekitarnya. Pada tahun 2012, cerita tentang kebebasan nyata dan keindahan NIHI didengar oleh pengusaha terkenal Amerika, Christopher Burch, yang mendapat info bahwa Claude sedang mencari bantuan untuk memperluas resortnya. Burch menelepon seorang teman dari Hotel Carlyle, New York - Pengusaha hotel kelahiran Afrika Selatan, James McBride, yang merupakan Presiden YTL Hotel di Singapura pada saat itu-untuk mengunjungi Sumba.

Kemudian pada tahun itu, perjalanan Burch dengan ketiga anaknya terbukti menjadi tonggak sejarah, karena ia mengakusisi NIHI dengan kemitraan bersama McBride. Akuisisi memungkinkan investasi besar dengan prioritas utama mengembangkan NIHI menjadi salah satu resort terbaik di dunia, menjadi contoh pengembangan yang berkelanjutan selaras dengan lingkungan dan masyarakat Sumba. Pembaca Travel + Leisure telah memilih NIHI sebagai hotel nomor satu di dunia, pada semua kategori, pada 2016 & 2017 mendapatkan Penghargaan Terbaik Dunia.

Edge Of Wildness™

 

Christopher Burch
Owner of NIHI

 

Chris Burch, pendiri dan CEO dari Burch Creative Capital, telah menjadi pengusaha dan investor yang malang melintang di berbagai bidang industri selama hampir empat puluh tahun. Dia berkontribusi pada munculnya beberapa teknologi dan brand mewah, seperti Faena Hotel + Universe, Jawbone, Tory Burch, Poppin dan Voss Water. Dia adalah mantan anggota dewan direksi di Tory Burch, Guggenheim Capital dan Continuum Group.

Kesuksesan usaha Mr Burch dimulai pada tahun 1976 ketika ia masih seorang mahasiswa S1 di Ithaca College. Bersama saudaranya, Bob, ia menginvestasikan $2.000 untuk memulai bisnis pakaian Eagle's Eye, bisnis yang berhasil mereka kembangkan hingga $165 juta dan kemudian dijual ke Swire Group.

Setelah penjualan Eagle's Eye, Mr. Burch adalah salah satu investor paling awal di Internet Capital Grup, kisah IPO terkenal di dunia Internet.

Mr. Burch telah berinvestasi dalam beberapa perusahaan real estate lokal dan internasional, termasuk kerjasama dengan arsitek Philippe Stark dan hotelier Alan Faena di Argentina untuk membangun ulang tanah hadiah tak terurus menjadi hotel Faena + Universe.

Pada bulan Juli 2014, Mr. Burch mengumumkan kemitraan dengan artis ternama, Ellen DeGeneres, untuk meluncurkan merek gaya hidupnya, ED oleh Ellen Degeneres. Kemudian di tahun itu, ia meluncurkan Cocoon9, rumah hasil renov mewah dengan rancangan lantai hemat ruang, desain kontemporer, fitur pemanfaatan energi, dan hasil akhir menakjubkan. Portofolio investasi Burch meliputi BaubleBar, Blink Health, Brad's Raw Foods, Chubbies, Little Duck Organics, Poppin, Soludos, dan usaha penyedia jasa hospitality Bur+Mah.

Mr. Burch pernah menjadi dewan pengurus Rothman Institute Orthopedic Foundation dan mantan ketua The Pierre Hotel Co-op Board. Dia telah memberikan dana untuk penelitian dan inisiatif filantropis di Mt. Sinai Hospital di New York, NYU Langone, The Sumba Foundation, The China Association of Social Work, The Child Welfare League of China dan The Henry Street Settlement.

 

James McBride
Partner & CEO, NIHI

 

Baru-baru ini diberi gelar "One To Watch" oleh Bloomberg Businessweek’s Bloomberg 50 dan dianugerahi Independent Hotelier of the World oleh Hotels magazine, James McBride adalah hotelier global yang telah memimpin beberapa hotel selama dua puluh lima tahun karir profesionalnya. Dikenal karena kreativitas yang tak terbatas, teknik pemasaran yang cerdas, dan pengalaman di bidang perhotelan yang luar biasa, James telah mengangkat standar industri perhotelan, membuka jalan untuk ide-ide inventif dan semangat kompetitif.

James beralih menjadi pengusaha perhotelan tahun 2012 saat dia bermitra dengan teman lama dan investor Chris Burch saat akuisisi Nihiwatu, sekarang NIHI Sumba, yang akhirnya terpilih menjadi hotel nomor #1 di Travel + Leisure magazine’s World’s Best Awards selama dua tahun berturut-turut.

James memulai perjalanannya karir globalnya di Perusahaan Hotel Ritz-Carlton, dimana dia bekerja selama empat belas tahun. Karyanya menjadi fokus kajian di Harvard Business School yang masih menjadi pelajaran yang paling laris dalam banyak program akademik "bahwa detail peluncuran hotel baru, berfokus pada perpaduan unik dari kepemimpinan, proses berkualitas, dan nilai-nilai harga diri dan martabat, untuk menghasilan layanan terbaik.”

James kemudian dipilih untuk menjalankan dua properti unggulan, berturut-turut: tahun 2002, James menjadi General Manager Grosvenor House di London Park Lane, dan pada 2003 dia diangkat oleh Hotel Rosewood sebagai Direktur Manajer The Carlyle di New York. Enam tahun bekerja di hotel Rosewood termasuk Direktorasi Regional semua Resort di Karibia.

James kemudian meraih panggung internasional lain ketika ia dipinang oleh Asia’s YTL Hotel Group untuk mengambil peran Presiden global mereka. Namun di Asialah, dimana jaringan, sumber daya, dan konsep original sepanjang karirnya membawa James mengejar fase revolusioner lainnya: Nihi Sumba.

Sebagai duta global untuk industri perhotelan dan hotel, James juga merupakan mitra pendiri Zanadu, sebuah agen perjalanan daring berkelas di Cina yang meluncurkan penghargaan Global Travel Experience Awards di tahun 2014.